moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

Minggu, 20 September 2026

Prolog: Thema Kebaktian Sektor, 25 September 2026


Menjadi Terang dan Dampak Nyata di Lingkungan Sekitar (Yeremia 29:7)

Panggilan untuk menjadi terang bukanlah sekadar wacana spiritual yang berhenti di dalam tembok gereja atau ruang persekutuan. Terang yang sejati selalu memancarkan sinarnya ke luar, menembus ruang-ruang publik, dan membawa perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kita. Kehadiran kita di tengah lingkungan masyarakat bukanlah suatu kebetulan, melainkan bagian dari rancangan Tuhan agar kita hadir sebagai pembawa damai dan solusi.

Hal ini sejalan dengan pesan Allah yang disampaikan melalui Nabi Yeremia kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam masa pembuangan di Babel: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7). Meskipun berada di situasi yang tidak ideal dan tidak nyaman, mereka tidak dipanggil untuk mengisolasi diri, melainkan aktif berkontribusi serta mendoakan kota tempat mereka tinggal.

Melalui pesan ini, kita diingatkan bahwa menjadi terang berarti berani melangkah untuk memberi dampak nyata. Kesejahteraan lingkungan tempat kita berada—baik di tetangga sekitar, tempat kerja, sekolah, maupun kota kita—adalah bagian dari tanggung jawab iman kita. Ketika kita aktif mengusahakan kebaikan, menunjukkan kepedulian, dan menghadirkan kasih Kristus secara nyata, saat itulah terang kita bersinar dan nama Tuhan dimuliakan melalui hidup kita.

Tuhan Memberkati

Kamis, 20 Agustus 2026

Prolog: Thema Kebaktian Sektor, 28 Agustus 2026




Kasih yang Memulihkan: Menghadapi Krisis Relasi (Efesus 4:32)

Dalam perjalanan hidup, tidak ada hubungan yang sepenuhnya bebas dari keretakan. Baik dalam pernikahan, keluarga, pertemanan, maupun komunitas gereja, luka dan kekecewaan sering kali hadir tanpa diundang. Ketika konflik terjadi dan komunikasi terputus, kita sering terjebak dalam krisis relasi—di mana ego menuntut keadilan, sementara hati memilih untuk menutup diri dan menyimpan dendam.

Namun, di tengah retaknya hubungan antarmanusia, Alkitab menawarkan jalan pemulihan yang radikal. Rasul Paulus mengingatkan kita dalam Efesus 4:32:

"Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu."

Pemulihan relasi tidak dimulai ketika orang lain berubah, melainkan ketika kita mengizinkan kasih Allah mengubah cara kita merespons luka. Kasih yang memulihkan bukanlah sekadar perasaan hangat, melainkan sebuah keputusan sengaja untuk melepaskan pengampunan—sama seperti kita yang telah terlebih dahulu diampuni oleh Kristus. Mari kita buka hati untuk memahami bagaimana kasih-Nya mampu merobohkan tembok keangkuhan dan menyembuhkan relasi yang paling retak sekalipun.

Tuhan Memberkati

Jumat, 31 Juli 2026

Kebaktian, Kel. AHP. Sitorus / MO. br. Silalahi (Graha Cibubur View)

Thema: Membangun Mezbah di Tengah Rumah: Mengubah Keluarga Sekuler Menjadi Keluarga Beriman. (Roma 12 : 2)


Kamis, 30 Juli 2026

Prolog: Thema Kebaktian Sektor, 31 Juli 2026


Membangun Mezbah di Tengah Rumah: Mengubah Keluarga Sekuler Menjadi Keluarga Beriman. (Roma 12 : 2)

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12: 2)

Kita hidup di era di mana arus dunia begitu kuat mendefinisikan apa itu 'keluarga sukses'. Sukses sering kali diukur dari pencapaian materi, status sosial, atau keharmonisan semu yang mengesampingkan Tuhan. Tanpa sadar, banyak keluarga Kristen perlahan bergeser menjadi 'keluarga sekuler'—keluarga yang kehidupannya tidak berbeda dengan dunia, di mana Alkitab hanya menjadi pajangan dan doa hanya diucapkan saat terdesak.

Rasul Paulus dalam Roma 12:2 memberikan peringatan keras sekaligus jalan keluar: 'Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...'

Hari ini, kita dipanggil untuk melakukan perlawanan terhadap arus tersebut. Bukan dengan cara mengasingkan diri, melainkan dengan berani 'Membangun Mezbah di Tengah Rumah'. Inilah kunci transformasi: mengubah rumah yang sekadar tempat singgah, menjadi pusat penyembahan yang mengubah hati setiap anggota keluarga menjadi pribadi yang beriman dan berkenan kepada Allah.

Tuhan memberkati.

Sabtu, 27 Juni 2026