moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

QUASIMODOGENITI

Quasimodogeniti: Seperti Bayi yang Baru Lahir dalam Kristus

Di dalam sukacita kemenangan Paskah yang masih terasa hangat, jemaat memasuki hari Minggu pertama setelah kebangkitan yang disebut Quasimodogeniti. Nama ini diambil dari bahasa Latin yang berarti "Seperti bayi yang baru lahir", merujuk pada penggalan nats dari 1 Petrus 2:2: "Quasi modo geniti infantes". Secara simbolis, Quasimodogeniti menandai fase awal kehidupan baru jemaat setelah mengalami penyucian melalui peristiwa salib dan kebangkitan. Jika Paskah adalah hari kelahirannya, maka Quasimodogeniti adalah saat di mana kita sebagai "bayi rohani" mulai mencari asupan nutrisi sejati untuk bertumbuh dalam iman yang dewasa.

Tokoh sentral dalam narasi minggu ini adalah Yesus Kristus yang Bangkit yang menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, secara khusus kepada Tomas. Peristiwa ini terjadi di sebuah ruangan yang terkunci di Yerusalem, delapan hari setelah kebangkitan, di mana Yesus datang membawa salam damai sejahtera untuk memulihkan keraguan hati para pengikut-Nya. Secara liturgis, suasana di altar gereja masih menggunakan warna Putih yang agung, melambangkan kemurnian hidup baru. Jemaat diajak untuk merespons kasih Tuhan dengan kerinduan yang mendalam akan firman-Nya, sebagaimana nats yang mendasari nama minggu ini:

"Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan." (1 Petrus 2:2)

Mengapa perenungan Quasimodogeniti ini sangat esensial bagi setiap keluarga? Tujuannya adalah untuk menegaskan bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan awal dari perubahan identitas kita. Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya kepada kebangkitan Kristus telah "dilahirkan kembali" dan memiliki hidup yang baru. Namun, hidup baru ini perlu dipelihara agar tidak mati atau layu. Melalui Minggu Quasimodogeniti, kita diingatkan bahwa keraguan (seperti yang dialami Tomas) adalah bagian dari proses pertumbuhan, sejauh keraguan itu membawa kita untuk "menyentuh" dan mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi.

"Kata-Nya kepada Tomas: 'Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku... dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.' Tomas menjawab Dia: 'Ya Tuhanku dan Allahku!'" (Yohanes 20:27-28)

Lalu, bagaimana kita harus menghayati semangat "bayi baru lahir" ini dalam kehidupan praktis sehari-hari? Kita dipanggil untuk memiliki rasa lapar dan haus akan Firman Tuhan secara konsisten. Di tengah kesibukan duniawi yang sering kali melelahkan batin, kita diajak untuk kembali kepada "air susu yang murni" yaitu kebenaran Injil yang menguatkan. Caranya adalah dengan menjaga kemurnian hati, menjauhkan diri dari segala kejahatan, tipu muslihat, dan fitnah, serta terus membangun persekutuan yang erat. Kita harus bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki iman yang teguh, bukan karena melihat dengan mata jasmani, tetapi karena percaya dengan hati.

"Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah." (1 Petrus 2:1)


Minggu Quasimodogeniti adalah pengingat bagi setiap jemaat bahwa perjalanan iman kita baru saja dimulai setelah Paskah. Mari kita miliki kerinduan yang tulus akan Firman Tuhan layaknya seorang bayi yang mendambakan air susu ibunya. Jangan biarkan keraguan menjauhkan kita, melainkan biarlah setiap pergumulan hidup membawa kita semakin dekat untuk mengakui: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Mari kita terus bertumbuh dalam keselamatan hingga iman kita berbuah lebat bagi kemuliaan nama-Nya.