moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

ESTOMIHI

Estomihi: Menatap Gunung Batu dalam Perjalanan Menuju Salib

Di dalam tradisi kalender gerejawi, kita tiba pada sebuah momen transisi yang sangat menentukan bernama Minggu Estomihi. Nama ini diambil dari penggalan Mazmur 31:3 dalam bahasa Latin, "Esto mihi in rupem praesidii", yang berarti "Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan". Secara simbolis, Estomihi menandai hari ke-50 sebelum Paskah dan merupakan hari Minggu terakhir sebelum kita memasuki Rabu Abu dan masa sengsara (Passion). Jika minggu-minggu sebelumnya kita belajar tentang bekerja di kebun anggur dan mengolah tanah hati, maka Estomihi adalah saat di mana jemaat diajak untuk berhenti sejenak dan menatap wajah Kristus yang mulai mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem.

Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Yesus Kristus yang dengan penuh kesadaran dan kedaulatan menyatakan nubuat tentang akhir hidup-Nya di dunia kepada kedua belas murid-Nya. Peristiwa ini terjadi saat Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, sebuah perjalanan yang penuh risiko dan pertentangan. Secara liturgis, masa ini masih ditandai dengan warna Hijau di altar gereja, namun di balik warna hijau itu, tersimpan doa permohonan agar Tuhan menjadi gunung batu dan benteng pertahanan bagi iman kita yang akan segera diuji oleh kisah penderitaan-Nya. Sebagaimana nats doa yang mendasari nama minggu ini:

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku." (Mazmur 31:3-4)

Mengapa perenungan Estomihi ini begitu krusial bagi setiap jemaat? Tujuannya adalah untuk mempersiapkan mental dan spiritual jemaat sebelum memasuki masa pendalaman duka atas dosa-dosa manusia. Alkitab mencatat bahwa pada momen ini, Yesus secara jujur mengungkapkan penderitaan yang akan dialami-Nya: Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain, diolok-olok, dihina, diludahi, disesah, dan dibunuh. Tanpa perlindungan Tuhan yang kuat, sulit bagi jemaat—sebagaimana para murid saat itu—untuk memahami rahasia salib ini.

"Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: 'Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi...'" (Lukas 18:31)

Lalu, bagaimana kita harus merespons panggilan Estomihi ini dalam kehidupan praktis? Kita diajak untuk meneladani keteguhan hati Yesus yang tidak lari dari kehendak Bapa, sekaligus menyadari kelemahan diri kita yang seringkali buta terhadap rencana Tuhan. Sebagaimana kisah orang buta di Yerikho yang sering dibacakan pada minggu ini, kita dipanggil untuk terus berseru kepada Yesus sebagai sumber pertolongan satu-satunya. Kita harus menjadikan Tuhan sebagai benteng yang teguh di tengah badai kehidupan, agar kita tidak goyah saat menghadapi tantangan iman.

"Lalu ia berseru: 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!' ... Maka Yesus berkata kepadanya: 'Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!'" (Lukas 18:38, 42)


Estomihi adalah seruan seorang anak kepada Bapanya untuk memohon perlindungan. Minggu ini mengingatkan setiap jemaat bahwa perjalanan menuju kemenangan Paskah harus melalui jalan salib. Mari kita jadikan Kristus sebagai Gunung Batu tempat kita berlindung, sehingga saat kita memasuki masa sengsara mulai Rabu Abu nanti, iman kita tetap teguh dan mata rohani kita terbuka lebar untuk melihat kasih-Nya yang menyelamatkan.