moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

INVOCAVIT

Invocavit: Berseru di Tengah Padang Gurun Pencobaan

Memasuki masa paling khidmat dalam kalender gerejawi, kita tiba pada sebuah momen yang disebut Minggu Invocavit. Nama ini diambil dari nats Mazmur 91:15 dalam bahasa Latin, "Invocabit me, et ego exaudiam eum", yang berarti "Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawabnya". Invocavit menandai hari Minggu pertama dalam rangkaian 40 hari masa sengsara atau Passion (tidak termasuk hari Minggu). Secara simbolis, minggu ini menjadi gerbang masuk bagi jemaat untuk meninggalkan keramaian dunia dan masuk ke dalam "padang gurun" spiritual guna merenungkan pergumulan melawan dosa dan cobaan.

Tokoh sentral dalam narasi Invocavit adalah Yesus Kristus sendiri, yang menghadapi konfrontasi langsung dengan Iblis. Peristiwa ini terjadi di padang gurun sesaat setelah Yesus dibaptis, di mana Ia berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Secara liturgis, suasana di altar gereja kini berubah drastis menjadi warna Ungu, yang melambangkan pertobatan, penyesalan, dan persiapan hati yang dalam. Di tengah kesunyian dan rasa lapar yang hebat, Yesus menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari roti duniawi, melainkan dari ketaatan mutlak pada kehendak Bapa. Sebagaimana dasar doa yang menjadi nama minggu ini:

"Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab dia, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkan dia dan memuliakannya." (Mazmur 91:15)

Mengapa perenungan Invocavit ini begitu fundamental bagi setiap keluarga? Tujuannya adalah untuk memperlihatkan bahwa bahkan Sang Anak Allah pun tidak luput dari pencobaan, namun Ia menang karena Ia bersandar pada Firman Tuhan. Alkitab mencatat tiga jenis godaan yang ditawarkan Iblis kepada Yesus: pemuasan perut (ekonomi), kesombongan rohani (uji kuasa), dan kemuliaan dunia (jabatan). Kisah ini menjadi cermin bagi kita bahwa di masa sengsara ini, musuh akan selalu mencari celah saat kita sedang lemah atau "lapar" secara lahiriah maupun batiniah.

"Tetapi Yesus menjawab: 'Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.'" (Matius 4:4)

Lalu, bagaimana kita harus menghayati Minggu Invocavit ini dalam kehidupan praktis? Kita dipanggil untuk memperkuat pertahanan iman kita dengan senjata yang sama dengan yang digunakan Yesus, yaitu Firman Tuhan (It is written/Ada tertulis). Masa Passion ini adalah waktu bagi kita untuk meningkatkan disiplin rohani, baik melalui doa yang lebih tekun maupun pengendalian diri. Saat kita merasa terhimpit oleh beban hidup atau godaan untuk menyimpang dari jalan Tuhan, kita diajak untuk "berseru" (Invocavit) kepada Allah, yakin bahwa Ia akan menjawab dan memberikan kelegaan.

"Maka berkatalah Yesus kepadanya: 'Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'" (Matius 4:10)


Minggu Invocavit mengingatkan setiap jemaat bahwa perjalanan iman memang penuh dengan padang gurun pencobaan. Namun, kita tidak berjalan sendirian. Kristus telah menang atas pencobaan tersebut, dan Ia menjanjikan penyertaan bagi siapa saja yang berseru kepada-Nya. Mari kita jalani masa sengsara ini dengan hati yang waspada namun penuh harap, menjadikan Firman Tuhan sebagai kompas utama dalam setiap langkah hidup kita.