Okuli: Mata yang Tetap Tertuju pada Sang Pembebas
Memasuki pertengahan Masa Sengsara (Passion), jemaat tiba pada hari Minggu ketiga yang disebut Minggu Okuli. Nama ini diambil dari bahasa Latin yang berarti "Mataku", merujuk pada penggalan nats pembuka dari Mazmur 25:15: "Oculi mei semper ad Dominum". Secara simbolis, Okuli menandai sebuah titik di mana jemaat diajak untuk tetap fokus dan waspada di tengah perjalanan panjang menuju salib. Jika minggu-minggu sebelumnya kita belajar tentang pencobaan dan rahmat, maka Okuli adalah sebuah pernyataan iman bahwa di tengah jerat dosa yang mencoba mengikat langkah kita, pandangan mata rohani kita tidak boleh teralihkan dari Tuhan.
Tokoh sentral dalam narasi minggu ini adalah Yesus Kristus yang menunjukkan kuasa-Nya atas kegelapan. Peristiwa ini sering kali dihubungkan dengan momen di mana Yesus mengusir setan dan menghadapi penolakan serta tuduhan dari orang-orang yang tidak percaya. Secara liturgis, suasana di altar gereja masih berselimut kain Ungu, warna pertobatan yang semakin mendalam. Di tengah tekanan dan tipu daya dunia yang mencoba menjatuhkan kita, jemaat melantunkan doa yang menjadi identitas minggu ini sebagai bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhan yang mampu melepaskan kaki kita dari jerat musuh:
"Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring." (Mazmur 25:15)
Mengapa perenungan Okuli ini sangat krusial bagi setiap jemaat? Tujuannya adalah untuk mengingatkan kita akan adanya realitas peperangan rohani. Alkitab mengajarkan bahwa Iblis tidak akan tinggal diam melihat jemaat yang bertobat di masa sengsara ini. Musuh akan mencoba memasang "jaring" berupa keputusasaan, perpecahan, atau godaan-godaan halus. Tanpa mata yang tertuju kepada Kristus, kita akan mudah terperosok ke dalam jaring tersebut. Melalui minggu ini, kita diingatkan bahwa Yesus lebih kuat dari segala kuasa kegelapan, dan siapa yang berpihak kepada-Nya akan memperoleh perlindungan.
"Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Lukas 11:20)
Lalu, bagaimana kita harus merespons panggilan Okuli ini dalam kehidupan praktis sehari-hari? Kita dipanggil untuk hidup sebagai "anak-anak terang" yang memiliki ketajaman visi rohani. Di tengah kesibukan atau pergumulan ekonomi, kita diajak untuk tidak membiarkan mata kita tertuju pada masalah, melainkan pada janji Tuhan. Caranya adalah dengan menjaga kemurnian hidup dan menjauhkan diri dari perbuatan kegelapan yang tidak berbuah. Kita harus berani mengambil posisi yang jelas di pihak Tuhan, karena tidak ada jalan tengah dalam mengikut Kristus. Sebagaimana Rasul Paulus mengingatkan dalam suratnya yang sering menjadi referensi minggu ini:
"Hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran." (Efesus 5:8-9)
Minggu Okuli adalah pengingat bagi setiap jemaat agar tetap siaga dan fokus. Jangan biarkan jaring dunia menarik perhatian kita menjauh dari jalan Tuhan. Mari kita jalani sisa masa sengsara ini dengan mata yang terus menatap kepada Sang Pembebas, yakin bahwa Dialah yang akan meluputkan kaki kita dari setiap jerat yang menghalangi langkah kita menuju kemenangan Paskah.