Masa Adven: Menenun Pengharapan dalam Kesabaran
Bayangkan sebuah fajar yang belum menyingsing, di mana dunia masih diselimuti kegelapan namun hati dipenuhi keyakinan bahwa matahari akan segera terbit. Itulah esensi dari Masa Adven. Adven bukan sekadar tanda bahwa kalender tahun gereja dimulai kembali pada akhir November atau awal Desember, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menyambut Yesus Kristus, Sang Terang Dunia.
Adven, yang secara harfiah berarti "Kedatangan", menempatkan umat dalam dua dimensi waktu yang luar biasa. Kita diajak mundur ke masa lalu, merasakan kerinduan bangsa Israel yang menantikan Mesias sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya ribuan tahun silam:
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5)
Sekaligus, kita diajak menatap masa depan, bersiap siaga menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai Raja di atas segala raja. Di dalam gedung gereja, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Kain penutup altar (paramentum) berganti menjadi warna Ungu. Warna ini bukan sekadar hiasan; ia adalah simbol pertobatan dan pengoreksian diri. Mengapa harus ungu? Karena sebelum kita merayakan kelahiran Sang Raja di palungan Natal, kita perlu membersihkan "palungan" di dalam hati kita masing-masing melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.
Tokoh yang menjadi inspirasi kita dalam narasi ini adalah Yohanes Pembaptis. Suaranya bergema dari padang gurun, sebagaimana tercatat dalam firman Tuhan:
"Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." (Markus 1:3)
Cara kita meluruskan jalan itu bukanlah dengan membangun fisik bangunan, melainkan dengan doa, kewaspadaan, dan kasih. Sebagaimana pesan Yesus sendiri agar kita tidak tertidur secara rohani:
"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." (Matius 24:42)
Visualisasi yang paling menyentuh dalam masa ini adalah penyalaan Lilin Adven. Setiap Minggu, satu per satu lilin dinyalakan hingga genap empat. Dari lilin Harapan, menuju Perdamaian, lalu Sukacita, dan berakhir di lilin Kasih. Ini menggambarkan bahwa semakin dekat kita dengan Natal, semakin terang pula cahaya iman kita mengalahkan kegelapan dunia. Kita diingatkan akan janji Imanuel:
"Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." (Yesaya 7:14)
Pada akhirnya, Adven mengajarkan kita bahwa kekristenan adalah iman yang menanti. Kita tidak terburu-buru dalam pesta pora, melainkan dengan sabar mengamini bahwa Allah itu setia. Sebagaimana dituliskan dalam surat Petrus:
"Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2
Petrus 3:9)
Melalui masa Adven, setiap jemaat dipersiapkan agar saat lonceng Natal berdentang nanti, hati kita sudah benar-benar layak dan bersih untuk menerima Yesus Kristus, Sang Juru Selamat dunia.