Sexagesima: Mengolah Tanah Hati untuk Benih Firman
Di dalam perjalanan kalender gerejawi, setelah kita melewati Minggu Septuagesima, kita melangkah masuk ke dalam minggu yang disebut Sexagesima. Nama ini berasal dari bahasa Latin yang berarti "Keenam puluh", sebuah penanda simbolis bahwa jemaat kini berada di sekitar hari ke-60 menjelang hari raya Paskah. Jika minggu sebelumnya kita belajar tentang kedaulatan Sang Pemilik Kebun Anggur, maka pada Minggu Sexagesima ini, fokus perenungan kita berpindah pada kualitas hati manusia dalam menerima berita keselamatan.
Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Yesus Kristus sebagai Sang Penabur, dan kita semua adalah tanah tempat benih itu jatuh. Peristiwa ini merujuk pada pengajaran Yesus di hadapan orang banyak yang datang dari berbagai kota untuk mendengarkan-Nya. Secara liturgis, masa ini dirayakan tepat dua minggu sebelum kita memasuki masa sengsara (Pra-Paskah). Di altar gereja, warna Hijau masih menghiasi paramentum, yang melambangkan kehidupan dan potensi pertumbuhan iman yang harus berakar kuat sebelum kita menghayati penderitaan Kristus di kayu salib.
Landasan utama dari masa Sexagesima ini adalah perumpamaan tentang benih yang jatuh di empat jenis tanah, sebagaimana dicatat dalam Injil Lukas:
"Adapun perumpamaan itu ialah: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis dan mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan." (Lukas 8:11-12)
Mengapa perenungan Sexagesima ini sangat penting bagi setiap jemaat? Tujuannya adalah sebagai "uji kelayakan" bagi kerohanian kita. Alkitab mengingatkan bahwa musuh terbesar dari pertumbuhan iman bukan hanya godaan luar, melainkan juga kedangkalan hati dan keterikatan pada kekhawatiran dunia. Benih yang jatuh di tanah berbatu atau di tengah semak duri menggambarkan kondisi jemaat yang mungkin rajin mendengar Firman, namun segera layu saat tertindas atau terhimpit oleh pengejaran kekayaan dan kenikmatan hidup.
"Yang jatuh di tengah semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang." (Lukas 8:14)
Lalu, bagaimana kita harus merespons pengajaran ini dalam kehidupan praktis sehari-hari? Kita dipanggil untuk menjadi "tanah yang baik" dengan cara menyediakan waktu untuk merenungkan Firman, berdoa, dan dengan jujur mengoreksi diri. Menjadi Kristen bukan sekadar rutinitas datang ke gereja, melainkan membiarkan Firman itu tersimpan, berakar, dan akhirnya menghasilkan buah nyata berupa kasih dan pelayanan di tengah masyarakat. Sebagaimana pesan penutup dari perumpamaan tersebut:
"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan jujur dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Lukas 8:15)
Sexagesima mengajak setiap jemaat untuk memeriksa diri secara jujur: Tanah jenis apakah hati kita saat ini? Apakah kita membiarkan kesibukan duniawi menghimpit pertumbuhan rohani kita? Mari kita persiapkan hati yang jujur dan tekun, agar benih Firman Tuhan tidak sia-sia, melainkan berbuah lebat bagi kemuliaan nama-Nya.