moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

SEPTUAGESIMA

Septuagesima: Panggilan Melayani dalam Kedaulatan Anugerah

Di dalam perjalanan kalender gerejawi, kita memasuki sebuah masa transisi penting yang dikenal dengan nama Septuagesima. Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti "Ketujuh puluh", sebuah penanda simbolis bahwa umat Kristiani kini berada di sekitar hari ke-70 menjelang hari raya Paskah. Angka tujuh puluh ini secara teologis membawa ingatan jemaat pada masa pembuangan bangsa Israel di Babel selama 70 tahun, yang menjadi cermin bagi kita bahwa hidup manusia di dunia adalah sebuah masa "pembuangan" akibat dosa, di mana kita sangat membutuhkan penebusan Allah untuk bisa kembali ke "tanah air" sorgawi.

Pusat dari narasi Septuagesima ini adalah hubungan antara Allah sebagai Pemilik Kebun Anggur dan manusia sebagai para pekerja-Nya. Melalui perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus Kristus, kita diperkenalkan pada sosok Tuan Rumah yang sangat murah hati. Ia adalah sosok yang tidak hanya memanggil mereka yang sudah siap sejak pagi buta, tetapi juga terus keluar mencari orang-orang yang masih menganggur di pasar hingga jam-jam terakhir, hanya untuk memberikan mereka kesempatan yang sama untuk bekerja dan menerima upah. Sebagaimana tertulis dalam nats utama yang mendasari minggu ini:

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya." (Matius 20:1)

Masa Septuagesima ini dirayakan tepat tiga minggu sebelum kita memasuki Masa Sengsara (Pra-Paskah/Passion). Di dalam gereja, altar masih dihiasi dengan warna Hijau, yang melambangkan pertumbuhan iman dan kehidupan jemaat yang sedang giat melayani di "kebun anggur" dunia—baik itu di tengah keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan di sektor (Wijk)/Gereja. Namun, meskipun warnanya hijau, suasana ibadah mulai mengajak jemaat untuk lebih mawas diri dan tidak sombong.

Alasan utama mengapa perenungan Septuagesima ini sangat krusial bagi setiap jemaat adalah untuk meruntuhkan keangkuhan rohani. Seringkali kita merasa lebih layak diberkati atau merasa "lebih suci" karena telah lama melayani di gereja dibandingkan orang lain. Namun, melalui ajaran Yesus ini, ditegaskan bahwa keselamatan (simbol satu dinar) adalah murni Kasih Karunia (Sola Gratia) dan hak prerogatif Allah. Upah itu diberikan bukan berdasarkan lamanya jam kerja atau hebatnya jasa kita, melainkan berdasarkan kebaikan hati Sang Pemilik Kebun Anggur:

"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Matius 20:16)

Lalu, bagaimana kita harus merespons panggilan ini dalam kehidupan praktis? Kita diajak untuk berjuang dan melayani dengan penuh disiplin, layaknya seorang atlet yang sedang bertanding di gelanggang. Kita bekerja bukan untuk "membeli" kasih Allah, melainkan sebagai ungkapan syukur karena telah dipanggil dari kegelapan. Rasul Paulus, dalam suratnya yang menjadi referensi kuat masa ini, mengingatkan agar kita memiliki penguasaan diri yang tinggi dalam menjalankan misi Tuhan:

"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24)

Melalui penghayatan Septuagesima ini, setiap jemaat diingatkan bahwa pintu pelayanan di kebun anggur Tuhan masih terbuka lebar bagi siapa saja. Mari kita bekerja dengan rendah hati, tanpa membanding-bandingkan diri dengan sesama, melainkan fokus pada kemurahan hati Tuhan yang telah memanggil kita menjadi mitra kerja-Nya.