moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

EPIPHANIAS

Epiphanias: Saat Terang Menembus Batas Bangsa

Setelah sukacita Natal berlalu, gereja memasuki masa Epiphanias, sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani Epiphaneia yang berarti "Penampakan" atau "Pernyataan Diri". Jika Natal adalah peristiwa kelahiran Yesus secara fisik, maka Epiphanias adalah proklamasi teologis bahwa bayi yang lahir di palungan itu bukan hanya milik bangsa Yahudi, melainkan Juru Selamat bagi seluruh umat manusia di segala bangsa. Sebagaimana kesaksian Rasul Paulus:

"Rahasia itu ialah, bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus." (Efesus 3:6)

Tokoh sentral dalam narasi Epiphanias adalah Yesus Kristus yang dinyatakan jati diri-Nya melalui kedatangan Orang-orang Majus dari Timur. Mereka adalah orang-orang terpelajar, ahli bintang yang mewakili bangsa-bangsa non-Yahudi ("gentiles"). Mereka datang bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa persembahan yang sarat makna: emas, kemenyan, dan mur.

Peristiwa ini terjadi di Betlehem, tak lama setelah kelahiran Yesus, saat bintang yang luar biasa menuntun langkah mereka dari negeri yang jauh. Waktu ini menandai berakhirnya masa Natal dan dimulainya misi penginjilan dunia. Allah menggunakan fenomena alam—sebuah bintang—untuk memanggil manusia datang kepada-Nya, menggenapi nubuatan kuno:

"Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu." (Yesaya 60:3)

Mengapa Epiphanias begitu penting dalam kalender gereja? Jawabannya adalah karena melalui peristiwa ini, tembok pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi telah diruntuhkan. Allah menunjukkan bahwa kasih-Nya bersifat universal. Bintang itu adalah tanda bahwa kegelapan dunia telah dikalahkan oleh Terang Sejati. Inilah alasan mengapa warna paramentum di altar sering kali tetap Putih pada hari rayanya dan berubah menjadi Hijau pada minggu-minggu sesudahnya sebagai simbol pertumbuhan iman.

"Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur." (Matius 2:11)

Bagaimana kita menghayati Epiphanias hari ini? Kita diajak untuk menjadi seperti bintang itu sendiri—menjadi penuntun bagi sesama untuk menemukan Kristus. Epiphanias memanggil setiap jemaat untuk tidak menyimpan berkat keselamatan bagi diri sendiri, melainkan menjadi saksi yang menyatakan kemuliaan Tuhan melalui perbuatan dan perkataan. Kita diingatkan oleh firman Tuhan:

"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu." (Yesaya 60:1)

Melalui Epiphanias, kita belajar bahwa setiap orang, dari latar belakang apa pun, diundang untuk sujud menyembah di hadapan Raja Damai.