moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

PALMARUM

Palmarum: Sambutan Meriah bagi Raja yang Rendah Hati

Di dalam tradisi kalender gerejawi, kita memasuki gerbang menuju Pekan Suci melalui hari Minggu yang disebut Palmarum. Nama ini diambil dari bahasa Latin yang berarti "Pohon-pohon Palem", merujuk pada ranting-ranting yang dilambaikan oleh orang banyak saat menyambut kedatangan Yesus. Secara simbolis, Palmarum menandai hari Minggu keenam sekaligus terakhir dalam Masa Sengsara (Passion). Jika minggu-minggu sebelumnya kita tenggelam dalam penyesalan yang sunyi, Palmarum hadir dengan kontras yang tajam: sebuah kemeriahan yang megah namun ironis, karena sorak-sorai kemenangan ini adalah langkah awal Yesus menuju takhta salib-Nya di bukit Golgota.

Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Yesus Kristus, yang menyatakan diri-Nya secara terbuka sebagai Mesias dan Raja. Namun, berbeda dengan raja-raja dunia yang menunggangi kuda perang sebagai simbol kekuasaan, Yesus memilih datang dengan menunggangi seekor keledai muda yang pinjaman. Peristiwa ini terjadi di gerbang kota Yerusalem, di mana ribuan orang yang datang untuk hari raya Paskah Yahudi keluar menyongsong-Nya, menghamparkan pakaian mereka dan melambaikan daun-daun palem sebagai tanda hormat. Secara liturgis, warna di altar gereja masih menggunakan warna Ungu, namun suasana ibadah sering kali diiringi dengan prosesi yang melambangkan sukacita jemaat menyambut Sang Raja Damai. Sebagaimana nubuat kuno yang digenapi pada hari itu:

"Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya, ia rendah hati dan menunggang seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zakharia 9:9)

Mengapa perenungan Palmarum ini sangat krusial bagi setiap keluarga? Tujuannya adalah untuk menguji kemurnian motivasi kita dalam mengikut Yesus. Alkitab mencatat bahwa orang banyak itu bersorak "Hosana!" (Selamatkanlah kami sekarang!) karena mereka mengharapkan Yesus menjadi raja politik yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Melalui Minggu Palmarum, kita diingatkan bahwa Yesus sering kali datang tidak sesuai dengan ekspektasi duniawi kita. Ia datang bukan untuk membebaskan kita dari kesulitan hidup sementara, melainkan untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa melalui pengorbanan-Nya.

"Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: 'Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!'" (Yohanes 12:12-13)

Lalu, bagaimana kita harus merespons kehadiran Raja yang rendah hati ini dalam kehidupan praktis sehari-hari? Kita dipanggil untuk memberikan "pakaian" terbaik kita—yaitu seluruh hidup, talenta, dan hati kita—untuk dihamparkan di hadapan Tuhan sebagai persembahan yang hidup. Di tengah pelayanan, kita diajak untuk meneladani kerendahan hati Kristus: melayani tanpa ambisi kekuasaan, dan tetap setia memuji Tuhan bukan hanya saat kita diberkati (saat berseru Hosana), tetapi juga saat kita harus memikul salib. Kita harus memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri.

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus... Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:5, 8)


Minggu Palmarum adalah pengingat bagi setiap jemaat bahwa kemenangan sejati dimulai dari kerendahan hati. Mari kita sambut Yesus masuk ke dalam "Yerusalem" hati dan keluarga kita masing-masing. Jangan biarkan sorak-sorai kita hanya berhenti di bibir, tetapi biarlah kita setia mendampingi Sang Raja sepanjang Pekan Suci ini, mulai dari perjamuan malam terakhir, derita di salib, hingga akhirnya kita bersama-sama merayakan fajar kebangkitan.