Reminiscere: Mengingat Rahmat di Tengah Pergumulan
Melangkah lebih dalam ke jantung Masa Sengsara (Passion), jemaat memasuki hari Minggu kedua yang disebut sebagai Minggu Reminiscere. Nama ini diambil dari bahasa Latin yang berarti "Ingatlah", merujuk pada nats pembuka dari Mazmur 25:6: "Reminiscere miserationum tuarum, Domine". Minggu ini menjadi sebuah momen krusial di mana jemaat, yang mungkin mulai merasa lelah atau tertekan oleh beban dosa di awal masa pertobatan, diajak untuk berpaling sejenak dari kegelapan diri sendiri dan memohon agar Allah mengingat janji kasih setia-Nya yang sudah ada sejak purbakala.
Tokoh sentral dalam penghayatan minggu ini sering kali difokuskan pada Yesus Kristus dan para pengikut-Nya yang sedang belajar tentang arti kesetiaan di tengah penderitaan. Peristiwa ini terjadi di altar yang masih berselimut kain Ungu, warna yang terus mengingatkan kita akan disiplin rohani dan penyesalan. Di tengah suasana khidmat ini, jemaat melantunkan doa yang menjadi dasar nama minggu ini sebagai bentuk permohonan agar Allah tidak mengingat dosa-dosa kita, melainkan mengingat rahmat-Nya:
"Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN." (
Mazmur 25:6-7)
Mengapa perenungan Reminiscere ini begitu penting bagi kita semua? Tujuannya adalah untuk memberikan harapan di tengah masa yang penuh keprihatinan. Alkitab mengajarkan bahwa sifat dasar Allah adalah kasih, dan Ia senang jika umat-Nya datang dengan kerendahan hati untuk memohon ampun. Tanpa keyakinan bahwa Allah mengingat kita dengan kasih-Nya, Masa Sengsara hanya akan menjadi masa yang menakutkan tanpa ada titik terang. Melalui minggu ini, kita diingatkan bahwa meskipun kita sering melupakan Tuhan, Tuhan tidak pernah melupakan janji keselamatan-Nya bagi kita.
"Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)
Lalu, bagaimana kita harus merespons panggilan Reminiscere ini dalam kehidupan praktis sehari-hari? Kita dipanggil untuk memiliki iman yang "tahan uji" dan pantang menyerah, seperti iman perempuan Kanaan yang sering dikisahkan pada minggu-minggu ini. Meskipun ia merasa tidak layak, ia terus memohon kepada Yesus karena ia tahu bahwa Tuhan adalah pribadi yang penuh rahmat. Kita diajak untuk "mengingatkan" diri kita sendiri akan kebaikan Tuhan di masa lalu agar kita memiliki kekuatan untuk menghadapi tantangan hari ini. Caranya adalah dengan menjaga ketekunan doa dan kesetiaan dalam persekutuan, meski di tengah situasi hidup yang berat.
"Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: 'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.' Dan seketika itu juga anaknya sembuh." (Matius 15:28)
Minggu Reminiscere adalah jembatan yang menghubungkan penyesalan kita dengan kasih setia Allah. Ia mengingatkan setiap jemaat bahwa sejauh apa pun kita terjatuh, Allah tetaplah Gunung Batu yang mengingat setiap anak-Nya. Mari kita jalani sisa Masa Sengsara ini dengan keberanian iman, percaya bahwa jika Tuhan mengingat kita menurut kasih setia-Nya, maka kemenangan Paskah sudah menanti di depan mata.