moto

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) ------ HKBP Sutoyo - Jln. Letjend Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia

RUNNING TEXT

SELAMAT DATANG DI WEB SITE SEKTOR TRANSYOGI CIBUBUR ... SEMOGA TUHAN MEMBERKATI AKTIFITAS KITA HARI INI

JUMAT AGUNG

Jumat Agung: Pengorbanan Sempurna di Bukit Tengkorak

Di dalam puncak kalender gerejawi, kita tiba pada sebuah hari yang paling kelam namun sekaligus paling mulia, yaitu Jumat Agung. Istilah ini merujuk pada peringatan duka cita yang mendalam atas penyaliban dan kematian Tuhan Yesus Kristus. Secara simbolis, Jumat Agung adalah titik nadir dari Masa Sengsara (Passion), di mana seluruh nubuatan para nabi mengenai penderitaan Mesias mencapai kegenapannya. Jika pada minggu-minggu sebelumnya kita masih melihat harapan, pada hari ini fokus jemaat sepenuhnya tertuju pada pengorbanan nyawa di atas kayu salib.

Tokoh sentral dalam narasi agung ini adalah Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah, yang berdiri sebagai persembahan yang hidup demi menebus dosa seluruh umat manusia. Peristiwa ini terjadi di sebuah bukit di luar tembok Yerusalem yang bernama Golgota, yang berarti "Tempat Tengkorak". Di bawah penguasa Romawi, Pontius Pilatus, dan atas desakan para pemuka agama, Yesus menjalani hukuman mati yang paling hina bagi zaman itu. Secara liturgis, suasana di altar gereja berubah total; warna Hitam menyelimuti paramentum, lonceng gereja mungkin dibunyikan dalam nada duka, dan ibadah sering kali diakhiri dengan keheningan yang mencekam (Sermon Tujuh Ucapan Yesus), melambangkan kegelapan yang menutupi bumi saat Sang Terang Dunia menghembuskan napas terakhir-Nya.

Landasan Alkitabiah yang menjadi inti dari Jumat Agung ini adalah ketaatan Yesus yang tidak bersyarat hingga tetes darah terakhir. Alkitab mencatat bahwa penderitaan-Nya bukan karena kesalahan-Nya sendiri, melainkan karena Ia memikul seluruh pelanggaran kita. Sebagaimana nubuatan Nabi Yesaya yang sering dibacakan pada hari ini:

"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5)

Mengapa peristiwa yang begitu tragis ini disebut sebagai "Agung" atau "Baik" (Good Friday)? Jawabannya terletak pada hasil dari kematian itu sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa melalui kematian Kristus, "tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah," yang berarti tembok pemisah antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa telah runtuh. Jumat Agung adalah momen perdamaian kosmis, di mana keadilan Allah (hukuman atas dosa) dipenuhi dan kasih Allah (pengampunan bagi manusia) dinyatakan secara bersamaan. Tanpa Jumat Agung, tidak akan ada Paskah; tanpa kematian-Nya, tidak ada kebangkitan bagi kita.

"Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah." (Matius 27:50-51)

Lalu, bagaimana kita harus menghayati Jumat Agung ini dalam kehidupan praktis? Kita dipanggil untuk melakukan refleksi diri yang jujur, menyadari bahwa setiap dosa kita—baik kebencian, ketidakjujuran, maupun egoisme—adalah paku-paku yang menyalibkan-Nya. Kita diajak untuk "mati bagi dosa" dan hidup bagi kebenaran. Di tengah keluarga, Jumat Agung adalah saatnya mempraktikkan pengampunan, karena Kristus telah mengampuni kita terlebih dahulu saat kita masih berdosa. Caranya adalah dengan menjaga sikap hormat, berpuasa secara batiniah, dan memusatkan pikiran pada ucapan terakhir Yesus di salib yang memproklamasikan bahwa misi penyelamatan telah usai dan berhasil:

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." (Yohanes 19:30)


Jumat Agung mengingatkan setiap jemaat bahwa harga keselamatan kita sangatlah mahal. Mari kita tundukkan kepala dengan rasa syukur yang dalam, menyadari bahwa di balik salib yang kasar itu, terpancar kasih yang tak terbatas. Jangan biarkan pengorbanan-Nya menjadi sia-sia; jadikanlah hari ini sebagai momen titik balik bagi kita untuk hidup lebih setia dan lebih mengasihi sesama, sembari menantikan fajar kemenangan di hari Paskah nanti.